Studi Potensi Sosial Ekonomi Untuk Mewujudkan Pertumbuhan Kawasan Perdesaan di Sekitar Bandara Dhoho, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

Dalam rangka mendukung pengembangan desa-desa di kawasan Bandara Dhoho di Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur, PSPK UGM bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kabupaten Kediri melakukan studi tentang pemetaan potensi sosial-ekonomi untuk meningkatkan pertumbuhan di desa-desa yang terdampak langsung pembangunan bandara. Studi potensi ini memetakan tentang berbagai sumber daya yang potensial untuk dikembangkan di desa-desa tersebut agar bisa menjadi pusat-pusat pertumbuhan yang sejalan dengan pembangunan yang digerakkan oleh hadirnya bandara tersebut.

Hasil studi menunjukkan bahwa di desa-desa di kawasan bandara terdapat potensi sosial ekonomi, yaitu pertanian, perkebunan, peternakan, UMKM, Pariwisata, Bumdes, dan SDM. Berikut akan diuraikan satu per satu potensi-potensi tersebut :

Pertanian

Meskipun di beberapa desa di kawasan bandara (Bulusari, Tarokan, Grogol, Cerme, Wonoasri, Banyakan dan Jatirejo) telah terjadi penyusutan luas lahan pertanian akibat pembangunan bandara dan alih fungsi lahan dari pertanian ke pemukiman, namun secara umum potensi pertanian di desa-desa di kawasan bandara masih ada. Di beberapa desa seperti di Desa Kedungsari, Kaliboto, Kalirong, Sonorejo, Kalipang, Manyaran, dan Tiron masih tersedia lahan yang cukup luas. Jumlah warga yang menekuni usaha di sektor pertanian di desa-desa tersebut juga masih banyak, bahkan bisa dikatakan mayoritas warga di desa-desa di kawasan bandara masih menggantungkan hidup di sektor pertanian.

Komoditas pertanian yang banyak dibudidayakan oleh para petani di desa-desa di kawasan bandara yaitu padi, jagung, dan kacang tanah. Desa Tiron merupakan salah satu desa yang terkenal sebagai penghasil beras yang sangat berkualitas, sedangkan Desa Manyaran merupakan desa yang menjadi sentra penghasil komoditas hortikultura seperti semangka dan melon. Desa Kaliboto, Kalirong dan Sonorejo merupakan desa penghasil bawang merah (bawang merah).  Seiring dengan pembangunan bandara maka muncul peluang pasar baru bagi hasil produksi pertanian.

Namun untuk bisa memanfaatkan peluang pasar tersebut maka perlu ada upaya untuk mengatasi berbagai kendala yang selama ini dihadapi oleh para petani, yaitu masalah keterbatasan pengetahuan petani khususnya terkait pemberantasan hama penyakit, ketersediaan sarana produksi pertanian khususnya pupuk, ketersediaan prasarana irigasi, ketersediaan prasarana transportasi dan rendahnya harga jual hasil produksi.

Perkebunan

Meskipun di beberapa desa, yaitu di Desa Bulusari, Tarokan, Grogol, Cerme, Wonoasri, Banyakan, Manyaran dan Jatirejo telah terjadi penyusutan lahan perkebunan akibat pembangunan bandara dan alih fungsi lahan perkebunan menjadi pemukiman, namun secara umum potensi perkebunan di desa-desa di kawasan bandara masih ada. Di beberapa desa seperti di Desa  Sonorejo, Kalipang, Manyaran, dan Tiron masih tersedia lahan yang cukup luas untuk budidaya tanaman perkebunan. Jumlah warga yang membudidayakan tanaman perkebunan di desa–desa tersebut juga masih banyak, Komoditas perkebunan yang dibudidayakan oleh para petani di desa-desa di kawasan bandara antara lain tembakau, tebu, tanaman buah buah-buahan seperti mangga gadung, jeruk, belimbing, pisang, srikaya, alpukat, dan durian, dan tanaman empon-empon seperti kunyit, laos, jahe, pule, cabe puyang, asam, trembesi, glodok dan bungur.

Desa Tarokan merupakan salah satu desa yang terkenal sebagai penghasil mangga podang yang sangat berkualitas. Desa Manyaran dan Banyakan merupakan desa yang menjadi sentra penghasil komoditas hortikultura seperti semangka dan melon. Desa Kalipang merupakan desa penghasil durian dan alpukat, serta empon-empon seperti kunyit, jahe, dan laos. Seiring dengan pembangunan bandara maka muncul peluang pasar baru bagi hasil produksi perkebunan.

Namun untuk bisa memanfaatkan peluang pasar tersebut maka perlu ada upaya untuk mengatasi berbagai kendala yang selama ini dihadapi oleh para petani komoditas tanaman perkebunan, yaitu penurunan produktivitas akibat usia tanaman, penurunan luas lahan perkebunan akibat alih fungsi lahan dan pembangunan bandara, keterbatasan kemampuan pemasaran, keterbatasan infrastruktur transportasi, keterbatasan kemampuan menjaga kontinuitas hasil produksi, keterbatasan pengetahuan dalam budidaya tanaman perkebunan, dan maraknya penjualan dengan sistem ijon.

Peternakan

Sektor peternakan merupakan potensi yang juga ada di desa-desa di kawasan bandara. Di desa-desa tersebut banyak warga yang memelihara ternak, meskipun sebatas sebagai usaha sampingan. Jenis ternak yang dibudidayakan yaitu sapi, kerbau, kambing, ayam sayur, itik, ikan lele dan burung kicau. Budidaya sapi dan kambing ada di semua desa, budidaya ayam pedaging ada di desa Tiron, budidaya lele ada di desa Wonoasri dan Kalirong,  dan budidaya burung murai batu ada di desa Kalipang. Seiring dengan pembangunan bandara maka muncul peluang pasar bagi hasil produk peternakan.

Namun untuk bisa memanfaatkan peluang pasar tersebut maka peternak harus mampu mengatasi persoalan yang selama ini dihadapi yaitu keterbatasan kemampuan peternak untuk dapat mengelola usaha budidaya peternakan secara profesional, keterbatasan pakan ternak pada musim kemarau, keterbatasan kemampuan pemasaran hasil produksi ternak, harga pakan pabrikan yang mahal, keterbatasan pengetahuan dalam penanggulangan penyakit ternak, belum mampu membuat pakan fermentasi, kotoran ternak belum dimanfaatkan untuk pupuk.

UMKM

Sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM)  merupakan potensi yang ada di desa-desa di kawasan bandara. Beberapa jenis usaha UMKM di desa-desa di kawasan bandara antara lain, industri pengolahan makanan seperti tempe, tahu, brambang goreng, sambel pecel, tahu walik, martabak, opak gambir, kerupuk, kembang gula, olahan jamur, kerupuk matahari, kerupuk ikan tenggiri, keripik pare, kripik gadung, keripik pisang, peyek, krecek gadung, tiwul, minuman sari buah, susu kedelai, susu sapi, tepung tapioka, kerupuk, kecambah, jamur tiram dan kue basah, industri kerajinan genteng, usaha konveksi/jahit, usaha sablon, pembuat jok motor/mobil, industri kerajinan tempurung kelapa, kerajinan kaca, kerajinan batik panji, barongan, wayang, gantungan kunci, tas, dan industri kerajinan gerabah (genteng dan layah), Pembangunan bandara telah membuka peluang baru bagi UMKM di desa-desa kawasan bandara.

Namun  untuk bisa memanfaatkan peluang tersebut maka para pelaku usaha UMKM harus mampu mengatasi persoalan yang selama ini dihadapi dan menghambat perkembangan UMKM, yaitu keterbatasan kemampuan menghasilkan produk yang menarik dan berkualitas, keterbatasan kemampuan melakukan pengemasan hasil produksi dengan baik, keterbatasan kemampuan memasarkan hasil produksi, keterbatasan modal usaha, dan bahan baku mahal. Selain meningkatkan kualitas produk, meningkatkan kualitas pengemasan dan penguatan jaringan pasar, untuk menyongsong era baru operasional bandara maka beberapa industri kerajinan perlu menghasilkan produk baru. Sebagai contoh industri pembuatan genteng di desa Manyaran dan industri pembuatan gerabah (layah) di desa Kedungsari perlu belajar untuk memproduksi gerabah dan keramik bercita seni yang dapat menjadi souvenir bagi wisatawan yang berkunjung ke Kediri atau transit di bandara Dhoho.

Pariwisata

Di desa-desa di kawasan bandara  terdapat potensi wisata yang dapat dikembangkan untuk menarik minat berkunjung para wisatawan baik dari lokal maupun mancanegara. Potensi wisata tersebut adalah potensi wisata budaya (karawitan, jaran kepang, campursari, tarian) di desa Kalipang, Cerme, Wonoasri,  Tiron,  potensi wisata alam (perbukitan, goa, terasering, embung, sumber mata air, air terjun, dan sungai) di desa Tarokan, Bulusari, Kedungsari, dan Sonorejo), potensi wisata agrowisata/petik buah di desa Bulusari, Sonorejo, dan Tiron, potensi wisata taman edukasi (kolam renang, kolam pancing, cafe dan sport centre) di desa Wonoasri, potensi wisata petani millennial (bonsai, anggrek, hidroponik) di desa Grogol dan desa Wonoasri.

Seiring dengan pembangunan dan operasi bandara, maka muncul peluang bagi sektor wisata di desa-desa di kawasan bandara. Namun untuk bisa memanfaatkan peluang tersebut maka perlu ada upaya untuk mengatasi berbagai kendala yang ada yaitu keterbatasan kemampuan dalam mengelola destinasi wisata. Akibat keterbatasan kualitas SDM, pengurus destinasi wisata di desa-desa di kawasan bandara belum mampu mengelola destinasi wisata secara profesional sehingga masih belum bisa menarik wisatawan secara maksimal. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk meningkatkan kapasitas pengelola destinasi wisata di desa-desa di kawasan bandara.

BUMDes

Di desa-desa yang ada di kawasan bandara sudah ada Bumdes. Bumdes tersebut ada yang memiliki satu jenis usaha, namun ada yang memiliki lebih dari satu jenis usaha. Jenis usaha yang banyak dilakukan oleh Bumdes yaitu usaha kredit desa, usaha penjualan sarana produksi pertanian, usaha toko ATK dan fotocopy, jasa pembayaran online, jasa internet, pengelola wisata air, pengelola taman edukasi, pengelola pamsimas, sewa alat pertanian, usaha sablon, usaha ternak kambing dan sapi. Ada pula Bumdes yang telah memiliki usaha sebagai sub kontraktor di proyek pembangunan bandara yaitu Bumdes Tarokan dan Bumdes Bulusari. Seiring dengan pembangunan dan operasi bandara, muncul peluang baru bagi Bumdes di desa-desa di kawasan bandara yaitu semakin terbukanya pasar bagi usaha jasa yang dijalankan oleh Bumdes (usaha sablon, internet, pembayaran online), semakin terbukanya pasar hasil produk peternakan (sapi dan kambing), semakin terbukanya pasar wisata/ peningkatan jumlah wisatawan (taman edukasi, wisata air),  dan semakin terbukanya peluang usaha baru bagi Bumdes yaitu sebagai subkon pekerjaan-pekerjaan konstruksi dan operasional bandara.

Namun untuk bisa memanfaatkan semua peluang tersebut maka Bumdes di desa-desa di kawasan bandara harus mampu mengatasi berbagai tantangan dan hambatan yang selama ini dihadapi. Bukan hanya tantangan dalam pengelolaan usaha yang selama ini menghambat usaha dikelola oleh Bumdes, tetapi juga tantangan yang menghambat gerak Bumdes, yaitu keterbatasan kemampuan pengurus dalam mengelola Bumdes. Oleh karena itu, kedepan perlu ada upaya untuk meningkatkan kapasitas pengurus Bumdes di desa-desa di kawasan bandara agar lebih profesional dalam mengelola Bumdes dan mampu membaca dan memanfaatkan peluang yang ada berkat keberadaan bandara.

Sumber Daya Manusia (SDM)

Sumber daya manusia merupakan salah satu potensi yang dimiliki oleh desa-desa yang ada di kawasan bandara. Jumlah penduduk di desa-desa tersebut relatif besar dan dilihat dari kelompok umur sebagian besar penduduk di desa-desa di kawasan bandara termasuk dalam kelompok usia produktif. Jumlah penduduk usia antara 17-60 tahun lebih dari  60,00%. Latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh penduduk di desa-desa di kawasan bandara cukup baik, mayoritas berpendidikan  SLTA/MA, disusul berpendidikan SLTP, dan sebagian berpendidikan sarjana. Seiring dengan keberadaan bandara maka muncul peluang bagi warga masyarakat di desa-desa di kawasan bandara, yaitu semakin terbuka kesempatan kerja dan kesempatan usaha. Kesempatan kerja tersebut bukan hanya yang terkait langsung dengan kegiatan konstruksi dan operasi bandara, tetapi juga yang tidak terkait langsung dengan pekerjaan di bandara, misalnya pekerja di sektor jasa (transportasi, penginapan, dll), dan perdagangan. Kesempatan usaha yang muncul juga bukan hanya yang terkait langsung dengan pekerjaan bandara misalnya sebagai subkon pekerjaan dalam proyek pembangunan bandara, tetapi juga yang tidak terkait langsung dengan pekerjaan bandara misal kesempatan usaha di bidang jasa penginapan, transportasi, dan perdagangan.

Agar warga masyarakat di desa-desa di kawasan bandara dapat memanfaatkan peluang yang muncul maka warga masyarakat di desa-desa di kawasan bandara harus mampu mengatasi tantangan dan hambatan yang menghalangi mereka untuk maju. Tantangan dan hambatan tersebut antara lain keterbatasan keterampilan dan keterbatasan kemampuan mengelola usaha. Meskipun memiliki latar belakang pendidikan yang cukup memadai, namun warga masyarakat desa-desa di kawasan bandara belum mampu mengakses kesempatan kerja, khususnya pekerjaan terkait dengan pembangunan dan operasi bandara karena keterbatasan keterampilan yang dimiliki. Warga desa-desa di kawasan bandara juga belum mampu memanfaatkan peluang usaha yang ada karena keterbatasan kemampuan merintis dan mengelola usaha. Untuk itu, maka perlu adanya pelatihan peningkatan ketrampilan dan kemampuan pengelolaan usaha bagi warga desa-desa di kawasan bandara.