Pos oleh :

PSPK UGM

Webinar Kongres Kebudayaan Desa 2020 #Seri 9 (6 Juli 2020)

Beberapa kasus kerumunan di rumah ibadah ikut berperan meluaskan COVID-19. Melihat potensi resiko tersebut, berbagai negara mengeluarkan kebijakan menutup sementara rumah ibadah. Sedang di sisi lain, agama justru menjadi solusi bagi upaya membantu sesama di tengah pandemi. Banyak pemuka agama yang menghimbau masyarakat untuk lebih menjaga kesehatan. Tidak jarang pula kita melihat inisiatif warga untuk menggalang dana atas nama kepedulian sesama umat.

Fenomena tersebut, menjadi pemantik untuk berpikir ulang tentang penyesuaian pembatasan peribadatan di rumah ibadah. Seperti bagaimana menjalankan ibadah, tapi tetap aman secara kesehatan. Sehingga tidak melanggar hak berkeyakinan. Lalu bagaimana  peran pemuka agama dalam pendidikan umat, hingga bagaimana arah kebijakan pengembangan kehidupan beragama di desa. Semua itu mengerucut pada bahasan tentang peran agama dalam mengawal tatanan nilai Indonesia baru saat dan pasca COVID-19.

Webinar Seri 9 akan merespon pentingnya bahasan tersebut. Sehingga kita menjadi punya gambaran tentang penguatan kehidupan beragama di desa yang melibatkan pemerintahan desa, komunitas desa, dan  para pemuka agama. Karena agama dan kepercayaan merupakan rahmat bagi seluruh alam.

Narasumber:
1. Gus Hilmy Muhammad (DPD RI)
2. Engkus Ruswana (MLKI/Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan YME Indonesia)
3. Kiai M. Mustafid (UNU Yogyakarta)
4. Hilman Latief (UMY)
5. Ibu Nyai Hj. Masriyah Amva (Pondok Pesantren Kebon Jambu Al Islamy, Cirebon)
6. Sabrang Damar Panuluh (Maiyah)

Moderator:
Kyai Jadul Maula (Sanggar Kaliopak)

Registrasi peserta: s.id/webinarkkd

Info Lebih Lanjut :
Instagram/Twitter @kongresdesa
Fans Page FB Kongres Kebudayaan Desa
Website: https://kongreskebudayaandesa.id/

 

Webinar Kongres Kebudayaan Desa 2020 #Seri 8 (4 Juli 2020)

“Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia.” Itu quotes Soekarno tentang pemuda yang diingat banyak orang, saking dahsyatnya potensi yang dimiliki orang-orang muda. Meski tetap ada syarat: tergantung pada kualitas pemudanya, apakah mereka didukung dengan baik untuk berkembang dalam segala sisi seperti pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, sosial, politik, dll. Jika tidak ya bakal jadi beban.

Bisa dibilang membangun pemuda sama dengan membangun masa depan. Sebab sejarah negeri ini sudah membuktikan betapa besar peran para makhluk berdarah muda ini. Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi 1945, Penyusunan UUD 1945, semuanya ada tapak jejak pemuda.

Nah, kita boleh senang karena jumlah pemuda di Indonesia cukup besar. Bagaimana kita membangun dan menumbuhkan potensi kelompok ini, terutama dari tingkat desa agar bisa mengambil peran positif dalam kemajuan bangsa? Sebab kita yakin, desa adalah masa depan Indonesia dan bahkan dunia. Olah tubuh, olah pikir, olah rasa, harus diolah dengan baik agar tak ada lagi istilah pemuda-desa-tak-kerja.
Mari kita bincangkan di Webinar Seri 8  yang tentang peran pemuda dalam pembangunan desa. Tak hanya menyoal organisasi karang taruna, tapi kita akan kupas dari sisi pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, lapangan dan kesempatan kerja, partisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, hingga soal pernikahan dini.

Narasumber:
1. Yaqut Cholil Choumas (Ketua Umum PP Gerakan Pemuda Ansor)
2. Sunanto (Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah)
3. Greg Sindana (ketjilbergerak)
4. Gede Robi (Navicula)
5. Iqbal Aji Daryono (Penulis)

Moderator:
Benydictus Siumlala (Dikyanmas KPK)

Registrasi peserta: s.id/webinarkkd

Info Lebih Lanjut :
Instagram/Twitter @kongresdesa
Fans Page FB Kongres Kebudayaan Desa
Website: https://kongreskebudayaandesa.id/

 

Webinar Kongres Kebudayaan Desa 2020 #Seri 7 (4 Juli 2020)

Dampak pandemi COVID-19 bergulir sampai menyentuh hal dasar, yakni ancaman krisis pangan. FAO sebagai organisasi pangan dunia mengingatkan bahwa ancaman ini bisa terjadi dalam skala global. Di Indonesia, cadangan pangan nasional dirancang aman hingga empat bulan ke depan pada situasi normal. Maka hingga kini belum terasa dampak krisis pangan karena stok cadangan pangan masih cukup. Padahal kita perlu ingat tentang rantai yang berpengaruh pada keamanan pangan, yakni produksi, distribusi, dan konsumsi.

Selama pandemi jelas membuat laju ekonomi melambat. Daya beli masyarakat menurun karena banyak perusahaan terpaksa memotong gaji karyawan bahkan PHK. Belum lagi para pekerja yang bergantung pada pendapatan harian, banyak yang mulai mengandalkan bantuan dari pemerintah maupun solidaritas warga. Dari sisi produksi, kita cermati para petani dan peternak merugi karena ada penurunan harga jual. Sesuai hukum pasar, mereka panen besar tapi pas permintaan dari konsumen menurun, jati pasti rugi. Akhirnya ada petani dan peternak yang memilih berhenti produksi.

Webinar Seri 7 mengajak kita untuk berpikir bersama tentang kedaulatan pangan dan lingkungan hidup yang berkualitas. Apa yang bisa kita lakukan agar hal tersebut bukan hanya mimpi, apalagi di masa pandemi begini. Selama ini, kalau kita bicara fakta di bidang pertanian, sebagian besar petani adalah petani gurem dan buruh tani. Dan yang membuat miris adalah makin banyak lahan pertanian beralih fungsi jadi perumahan, kualitas lingkungan kian buruk, dan kebijakan pemerintah yang belum berpihak pada kesejahteraan petani.

Narasumber:
1.  Ahmad Nashih Luthfi (Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional)
2. Prof. Damayanti Buchori (Direktur CTSS IPB)
3.  Nissa Wargadipura (Pesantren Ekologis At-Thariq Garut)
4. Singgih S. Kartono (SPEDAGI)
5. Maria Loretha (Penggagas Pertanian Sorgum, Adonara Flores Timur)

Moderator:
Rumekso Setyadi (Sanggar Inovasi Desa)

Registrasi peserta: s.id/webinarkkd

Info Lebih Lanjut :
Instagram/Twitter @kongresdesa
Fans Page FB Kongres Kebudayaan Desa
Website: https://kongreskebudayaandesa.id/

 

Webinar Kongres Kebudayaan Desa 2020 #Seri 6 (3 Juli 2020)

Pandemi Covid-19 telah mengubah tatanan kehidupan di seluruh dunia. Semua aspek, dari bisnis raksasa hingga unit terkecil yakni keluarga, gagap dalam beradaptasi dengan situasi baru ini. Perempuan dan anak mengalami tantangan yang serupa. Menurut data WHO, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di berbagai belahan dunia meningkat. Angka kehamilan di masa pandemi dikhawatirkan melonjak karena terjadi penurunan penggunaan alat kontrasepsi.
Ibu hamil dan anak di masa pandemi punya resiko tinggi, karena mereka perlu pemeriksaan kehamilan dan imunisasi yang mewajibkan mereka berinteraksi dengan petugas medis. Beban ganda juga dialami para ibu. Ibu bekerja, selain harus tetap bekerja, juga mesti mengurus anak-anak yang sekolah dari rumah. Selain itu, beberapa ibu rumah tangga juga terdampak secara ekonomi ketika suaminya kena PHK, padahal dapur harus tetap ngebul. Kondisi “terjebak” di rumah selama berbulan-bulan ini secara psikis relatif berat.

Webinar Seri 6 ini membahas peran perempuan selama masa pandemi dan sesudahnya. Kita bisa bicara tentang kiat mengurangi resiko kekerasan terhadap perempuan dan anak. Lalu tentang sistem yang oke supaya ibu hamil dan balita tetap sehat, baik fisik maupun mental, selama pandemi dan sesudahnya. Satu hal yang tak kalah penting adalah mengenai strategi perempuan menangani krisis finansial dalam keluarganya di masa rumit ini.

Narasumber:
1. Dr. Risa Permanadeli (Pusat Kajian Representasi Sosial Indonesia)
2. Mira Diarsi (Staf Ahli Gubernur Jateng)
3. Hasan Aoni (Omah Dongeng Marwah Kudus)
4. Ema Husein (SPAK Sulawesi Selatan)
5. Wahid Hasyim (Yayasan Wangsakerta Cirebon)

Moderator:
Tata Gandi (Reksa Dyah Utami)

Registrasi peserta: s.id/webinarkkd

Info Lebih Lanjut :
Instagram/Twitter @kongresdesa
Fans Page FB Kongres Kebudayaan Desa
Website: https://kongreskebudayaandesa.id/

 

Webinar Kongres Kebudayaan Desa 2020 #Seri 5 (3 Juli 2020)

Setiap orang butuh aman dan tenteram dalam menjalani hidup. Karena mereka akan tenang dalam bekerja, dan tidak khawatir ada gangguan dari pihak lain. Kalau semua warga merasai ini, maka kehidupan harmonis akan tercipta. Dan dalam harmoni, meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan bukan hal yang sulit diwujudkan.

Bayangkan jika sebaliknya yang terjadi. Banyak kerusuhan, perkelahian, klithih, terorisme, dan sebagainya. Bahkan di awal masa pandemi COVID-19, mendadak kasus pencurian merebak. Meresahkan, karena menciptakan rasa tidak aman. Karena itu dalam kondisi demikian, warga butuh negara hadir. Dan kehadiran negara yang paling dekat dengan warga adalah pemerintah desa. Kehadirannya sebagai pengayom, akan memberikan jaminan rasa aman.
Webinar Seri 5 mencoba menjelajahi ide-ide terkait isu pemenuhan rasa aman dan nyaman bagi warga desa. Baik untuk bekerja menghidupi keluarga, maupun untuk menjalankan aktivitas sehari-hari di masa tatanan Indonesia baru. Kita bisa berbagi tentang masalah keamanan apa saja yang dihadapi warga secara nyata. Mulai bagaimana menghadirkan rasa aman di tengah masyarakat, hingga program penguatan keamanan dan ketertiban dalam situasi yang menuntut adanya kebiasan baru di tengah masyarakat.

Narasumber:
1. Jaleswari Pramodhawardani (KSP)
2. Lian Gogali (Institut Mosintuwu, Poso)
3. Era Purnama Sari (YLBHI)
4. M. Najib Azca, Ph.D (Sosiologi UGM)
5. Nus Ukru * (Jaringan Baileo Maluku)

Moderator:
Kardono Setyo Rahmadi (Jawa Pos)

Registrasi peserta: s.id/webinarkkd

Info Lebih Lanjut :
Instagram/Twitter @kongresdesa
Fans Page FB Kongres Kebudayaan Desa
Website: https://kongreskebudayaandesa.id/

 

Webinar Kongres Kebudayaan Desa 2020 #Seri 4 (2 Juli 2020)

Saat kasus COVID-19 mulai menyebar; rumah sakit, alat pelindung diri, obat-obatan, ventilator hingga ketersediaan tenaga kesehatan tidak mampu melayani seluruh pasien. Rapuhnya sistem nampaknya bisa menjadi momentum untuk mendefinisikan kembali makna “sehat” di era kenormalan baru. Selama ini, sehat hanya dimaknai dalam pengertian fisik, sehingga mereduksi pentingnya kesehatan pikiran dan jiwa.
Padahal, olah gerak fisik yang berpadu dengan olah pikiran akan bermuara pada keselarasan serta pencapaian spirit yang luhur. Dengan melatih badan (body), kita akan mengenal struktur dan cara kerja organ-organ tubuh. Sementara dengan melatih pikiran (mind), manusia disadarkan tentang bagaimana otak mengkoordinasikan gerak tubuh. Melatih ketiganya akan menciptakan keseimbangan antara diri dengan alam tempat kita hidup. Sehingga kita terdorong untuk hidup harmonis dengan keluarga, saudara, dan masyarakat.
Webinar Seri 4 akan membicarakan tentang gagasan kesehatan semesta. Tidak hanya mendefinisikan kembali makna sehat, namun juga bagaimana kita menata kembali manajemen kesehatan. Termasuk pendataan kesehatan warga yang valid, hingga pemahaman resiko penyakit dan penanggulangannya. Tapi ini bukan hanya tentang data dan teknologi. Perlu kemauan politik untuk menghargai setiap nyawa warga negara. Pemerintah desa sebagai representasi negara perlu membangun sistem kesehatan berbasis komunitas. Dan itu butuh sistem penyangga yang kuat, agar kita dapat mencapai kesehatan semesta.

Narasumber:
1. Dumillah Ayuningtyas (FKM UI)
2. Hairus Salim (LKiS)
3. IB Yoga Atmaja (PGB Bangau Putih Yogyakarta)
4. DR. dr Budi Laksono, MHSc (Penggagas Jambanisasi)
5. Iskandar Waworuntu (Bumi Langit Permaculture)

Moderator:
Dr. Ika Puspitasari (Farmasi UGM)

Registrasi peserta: s.id/webinarkkd

Info Lebih Lanjut : Instagram/Twitter @kongresdesa Fans Page FB Kongres Kebudayaan Desa Website: https://kongreskebudayaandesa.id/

Webinar Kongres Kebudayaan Desa 2020 #Seri 3 (2 Juli 2020)

Sekolah yang harusnya jadi tempat belajar, bermain, dan mengembangkan diri, belum memberi kesempatan tersebut. Secara umum, bahkan sekolah formal kerap dipandang belum mampu  membentuk karakter seperti hormat kepada yang lebih tua, berpikir terbuka, hingga sikap bertanggungjawab. Sistem pendidikan di Indonesia hingga kini belum serius berusaha menyelesaikan masalah di bidang pendidikan. Salah satunya karena sistem pendidikan berubah mengikuti pergantian pejabat, sehingga tidak terencana secara jangka panjang.

Meski demikian, di berbagai daerah muncul kelompok yang berusaha membangun model pendidikan yang memanusiakan. Ada Sanggar Anak Alam (Salam) Yogyakarta dan Sekolah Payo-payo Makassar yang mencoba memperlakukan anak didik menjadi manusia yang memiliki sikap hidup, berbudi luhur, hingga menguasai keterampilan hidup. Sejak pandemi COVID-19 memaksa anak-anak belajar di rumah, orangtua kembali menjadi guru. Hal tersebut memaksa kita berpikir kembali, seperti apakah pendidikan yang membebaskan itu?

Webinar Seri 3 mencoba mengulik pemasalahan pendidikan dan menawarkan pendidikan alternatif. Mulai dari bagaimana cara memulai pendidikan yang membabaskan dari tataran desa. Hingga apa saja syarat yang dibutuhkan untuk membangun pendidikan yang mendukung nilai-nilai luhur, seperti kejujuran dan budaya anti korupsi. Karena, pendidikan butuh peran aktif orangtua dan masyarakat. Mereka tidak bisa sekadar menitipkan anaknya di sekolah lalu lepas tangan.

Narasumber:
1. Dr. Samto (Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Kemendikbud)
2. Toto Raharjo (SALAM Yogyakarta)
3. Fadilla M. Apristawijaya, M.A (Sokola Rimba)
4. Ahmad Bahruddin (Anggota BAN DIKMAS)
5. Nurhady Sirimorok (Sekolah Payo-payo Makassar)

Moderator:
AB Widyanta, MA (Sosiologi Fisipol UGM)

Registrasi peserta: s.id/webinarkkd

Info Lebih Lanjut :
Instagram/Twitter  @kongresdesa
Fans Page FB Kongres Kebudayaan Desa
Website: https://kongreskebudayaandesa.id/

Webinar Kongres Kebudayaan Desa 2020 #Seri 2 (1 Juli 2020)

Hancurnya sektor industri akibat pendemi COVID-19 menyebabkan pekerja di kota pulang ke desa.  Lalu pemerintah menyikapinya dengan gelontoran berbagai bantuan sosial untuk mengurangi dampak ekonomi. Termasuk di antaranya mengalokasikan sebagian Dana Desa untuk Bantuan Langsung Tunai yang diutamakan untuk kebutuhan pangan.  Krisis ini menjadi momentum untuk memikirkan kembali sejauh mana sistem ekonomi yang berlaku sebelum pandemi, mengedepankan desa sebagai kekuatan ekonomi yang lebih adil dan memiliki nilai luhur.

Sekaligus kondisi ini menjadi peluang bagi desa untuk melahirkan gagasan dan inovasi dalam mewujudkan tatanan ekonomi baru yang lebih adil. Salah satu contohnya berupa gotong royong yang dilakukan oleh Desa Panggungharjo, Ngestiharjo, Guwosari, Wirokeren, dan Sriharjo di Bantul. Kelimanya mengembangkan platform belanja online Pasardesa.id sebagai upaya untuk menjaga perputaran uang di desa. Sehingga melindungi akses pangan yang menyatu dengan upaya menggerakkan aktivitas ekonomi warga.

Webinar Seri 2 akan membahas  tentang peluang apa saja yang hadir di masa krisis. Termasuk bagaimana menghadirkan sistem ekonomi desa yang mampu bertahan menghadapi krisis. Juga cara memperkuat sistem perekonomian desa dan hubungannya dengan kota. Hingga upaya menyerap tenaga kerja saat memutar perekonomian desa.

Narasumber:
1. Prof. Erani Yustika (FEB UB)
2. Dr. Rimawan Pradiptyo, Ph.D (FEB UGM)
3. Rudy Suryanto. SE, M. ACC., AK., CA (Founder Bumdes.id)
4. Dr. Francis Wahono (MM, Fakultas Ekonomi UST)
5. Dewi Hutabarat (Direktur Eksekutif Sinergi Indonesia, Koperasi KOBETA)

Moderator:
Chandra Firmantoko (ASEC)

Registrasi peserta: s.id/webinarkkd

Info Lebih Lanjut :
Instagram/Twitter  @kongresdesa
Fans Page FB Kongres Kebudayaan Desa
Website: https://kongreskebudayaandesa.id/

Webinar Kongres Kebudayaan Desa 2020 #Seri 1 (1 Juli 2020)

Pandemi yang melanda dunia menyadarkan orang bahwa industri kesehatan gagal melindungi masyarakat. Wabah juga memaksa kita mengubah relasi yang selama ini dianggap normal. Manusia kemudian membatasi sentuhan fisik yang biasa dilakukan. Seperti jabat tangan, berpelukan atau aktivitas fisik lain. Dibalik ancaman yang muncul, COVID-19 membuat kita mempertanyakan tatanan dan kebiasaan yang selama ini terjadi. Termasuk kebutuhan dasar yang seharusnya dijamin oleh pemerintah, tetapi justru diatur oleh swasta dan kekuatan modal.

COVID-19 mengubah semua tatanan tersebut tanpa teriakan revolusi. Berbagai aksi gotong-royong di beragam wilayah memantik pertanyaan, apakah kerjasama adalah puncak dari relasi ekonomi? Apakah puncak relasi politik adalah musyawarah? Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang ingin diuji dan dibuktikan dalam agenda Kongres Kebudayaan Desa (KKD). Hal tersebut membutuhkan kesetaraan yang mengurangi kesenjangan sosial. Pandemi memunculkan kesempatan untuk membangun tatanan yang lebih bermartabat, berkeadilan dan berkesetaraan.

Webinar Seri 1 ini untuk mengumpulkan dan menawarkan ide tatanan baru Indonesia dari desa. Desa sebagai satuan pemerintahan terkecil di Republik Indonesia, perlu menjadi titik awal untuk merumuskan tata nilai dan tata kehidupan baru dalam bernegara dan bermasyarakat. Sekaligus memberikan gagasan tentang kebijakan dan budaya anti korupsi pada pemerintah serta masyarakat desa.

Narasumber:
1. Laode M. Syarif, S.H, LLM, Ph.D (Direktur Eksekutif Kemitraan/Partnership Governance Reform in Indonesia)
2. Budie Arie Setiadi (Wakil Menteri Desa PDTT)
3. Prof. Dr. Melani Budianta MA. Ph.D (Guru Besar FIB UI)
4. Garin Nugroho (Budayawan)
5. Dr. Muhammad Faisal (Founder Youth Laboratory Indonesia)
6. Wahyudi Anggoro Hadi S.Farm. Apt. (Lurah Desa Panggungharjo)

Moderator:
FX Rudy Gunawan (Staf KSP 2014-2019)

Registrasi peserta: s.id/webinarkkd
Info Lebih Lanjut :
Instagram/Twitter @kongresdesa
Fans Page FB Kongres Kebudayaan Desa
Website: https://kongreskebudayaandesa.id/

Kongres Kebudayaan Desa 2020 #Pembukaan (1 Juli 2020)

Pembukaan Kongres Kebudayaan Desa 2020

Rabu, 1 Juli 2020
pukul 09.00 WIB – 10.00 WIB .

Acara:
Sambutan .
– Sri Sultan HB X (Gubernur DIY)
– Wahyudi Anggoro Hadi, S.Farm, Apt (Lurah Panggungharjo)

Keynote Speech: .
– Drs. H. Abdul Halim Iskandar, M.Pd (Menteri Desa)
– Drs. Firli Bahuri, M.Si (Ketua KPK)

Pidato Kebudayaan: .
– Dr. Hilman Farid (Dirjen Kebudayaan)

Registrasi peserta: s.id/webinarkkd

Info Lebih Lanjut :

Instagram/Twitter @kongresdesa

Fans Page FB: Kongres Kebudayaan Desa

Website: https://kongreskebudayaandesa.id/