Kajian Harmonisasi Hidup Modern Kilang dengan Masyarakat di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur yang Berkearifan Lokal

PSPK UGM bersama LAURA UGM dan PT Pertamina Rossneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) telah mengadakan kajian harmonisasi hidup modern kilang dengan masyarakat di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Kajian ini bertujuan untuk : pertama,  menyusun pemetaan permasalahan (isu-isu strategis) dan kebutuhan (need assessment) masyarakat Jenu, rancangan pengembangan program dan strategi pemberdayaan, serta pelaksanaan program pendorong pemberdayaan masyarakat Jenu, kedua, menyusun baseline data kondisi demografi masyarakat Jenu, dan ketiga, menyusun rancangan  program dan strategi pemberdayaan masyarakat Jenu serta program stakeholders relations. Lokasi kegiatan dilaksanakan di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, khususnya 9 desa sekitar pembangunan tapak kilang, yakni Purworejo, Tasikharjo, Remen, Mentoso, Rawasan, Sumurgeneng, Wadung, Kaliuntu, dan Beji.

Latar Belakang Kegiatan.

PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) yang terletak di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur merupakan perusahaan joint venture antara PT Pertamina (Persero), melalui salah satu anak perusahaan yaitu PT Kilang Pertamina Internasional dengan Rosneft Singapore Pte LTd, salah satu dari subsidiary perusahaan Rosneft di Rusia. Untuk memenuhi kebutuhan minyak dan gas secara Nasional, PT sebagai perusahaan BUMN bersama dengan Rosneft Rusia yang mengelola wilayah kilang, telah mendapat persetujuan berdasarkan pada keputusan Menteri ESDM Nomor 807K/12/MEM/2016 tanggal 3 Maret 2016 dan menjadi program strategis Nasional yang dikeluarkan oleh Presiden Jokowi pada Perpres No 3 tahun 2016. Saat ini PRPP sedang dalam upaya melaksanakan proses pembangunan fasilitas kilang yang rencananya dibangun di atas lahan seluas 821 hektar di Kecamatan Jenu, meliputi 17 (tujuh belas) desa; 9 (sembilan) desa berada di dekat pembangunan calon tapak kilang.

Seiring berjalannya waktu, proyek investasi joint venture semacam ini lambat laun akan bertumbuh menjadi industri yang semakin membesar. Siklus pertumbuhannya diawali dengan beragam peristiwa inkubasi yang tidak tampak di mata publik. Lama kelamaan, siklus ini akan semakin tampak nyata di kawasan (calon) tapak kilang. Pada tahap awal inilah, muncul beragam dinamika friksi/permasalahan antara pihak perusahaan dengan masyarakat sebagai akibat dari semakin intensifnya interaksi antara proyek pembangunan kilang dengan keseharian masyarakat. Berdasarkan gagasan pada regulasi pemerintah yang mengatur kewajiban perusahaan untuk melaksanakan program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) maka dibutuhkan berbagai program community development (Comdev) yang terprogram untuk menciptakan integrasi antara pihak perusahaan (PRPP dan Pertamina GRR Tuban) dengan masyarakat Jenu.

Sejauh ini pihak perusahaan (PRPP) sudah memiliki inisiatif melaksanakan serangkaian kegiatan program CSR kepada masyarakat Jenu, terutama yang masuk dalam Penlok kilang GRR Tuban, yaitu Mentoso, Rawasan, Kaliuntu, Wadung dan Sumurgeneng. Perusahaan sudah mengalokasikan kurang lebih dana Rp. 6,5 miliar rupiah untuk program-program CSR, baik berupa santunan, beasiswa, peluang kerja, serta bantuan usaha pada nelayan, dan kegiatan keberlanjutan lingkungan (bersih dan penghijauan pantai). Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai perusahaan kepada masyarakat Jenu, pihak PRPP mengevaluasi bahwa berbagai program CSR yang telah dilakukan bersifat sporadis dan belum merupakan bagian dari program CSR yang terencana serta berfokus pada pemberdayaan masyarakat berkelanjutan. Oleh karena itu, perlu program yang terencana. Sehingga, sebelum dilaksanakannya program tersebut perlu studi yang mendalam atas berbagai friksi/permasalahan yang terjadi antara pihak perusahaan dengan masyarakat untuk membangun rasa saling percaya dan menetapkan titik pijak bagi beragam program lanjutan yang akan diaplikasikan pada masyarakat. Tidak kalah penting, berbagai ragam program dilakukan mitigasi melalui monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan.

 

Hasil Kajian

Secara umum kebudayaan komunal dan gotong royong masyarakat di desa-desa sekitar kilang minyak masih dipraktikan sesuai dengan situasi dan kondisi dari waktu ke waktu.  Hal ini menjadi modal sosial yang kuat untuk menggerakkan masyarakat secara mandirimelalui program-program pemberdayaan masyarakat PRPP. Kebudayaan komunal dan gorong royong dapat terlihat pada praktek-praktek keagamaan, ekonomi, sosial politik, dan aspek kehidupan lainnya. Oleh karena itu, PRPP perlu mendukung dan menunjang kegiatan kebudayaan di masing-masing desa. Sebaiknya dukungan tersebut tidak mengurangi daya partisipasi masyarakat agar menjaga rasa antusiasme dalam kegiatan kebudayaan, seperti sedekah bumi, karnaval kemerdekaan, dan lainnya.

Ketokohan sosial politik di desa-desa sekitar kilang minyak, baik itu kepala desa, tokoh keagamaan, dan organisasi lainnya tidak terlepas dari preseden atau kejadian-kejadian di masa lalu. Di desa-desa tersebut kepala desa memiliki peran dan ketokohanyang berpengauh dalam pengembangan desa. Namun masih ada tokoh-tokoh lain seperti tokoh keagamaan, karang taruna, BUMDES, dan komunitas lainnya pun yang memiliki pengaruh besar untuk mengendalikan, mengkoordinir, dan menggerakkan masyarakat. Oleh karena itu sejumlah program pemberdayaan masyarakatPRPP sebaiknya  turut melibatkan dan memberikan peran bagi organisasi atau komunitas tersebut untuk mengkoordinir jalannya program, seperti pemerintah desa, organisasi keagamaan, karang taruna, Bumdes, dan lainya. Dengan demikian keberanjutan program dapat terbebas dari kepentingan-kepentingan satu pihak tertentu.

Pembebasan lahan dan proses pembangunan kilang minyak GRR Tuban ke depan, telah dan dapat memberikan dampak bagi keberlanjutan ekonomi masyarakat sekitar. Sektor pertanian dan peternakan adalah sektor yang paling merasakan dampaknya, terutama para petani kecil ,buruh tani, dan peternak. Oleh karena itu, PRPP perlu memperhatikan sejumlah program terkait pengembangan usaha pertanian dan peternakan yang inovatif, efektif dan efisien. Tidak hanya itu, peluang usaha di masing-masing desapun juga perlu dipersiapkan, seperti penguatan ketrampilan, kelembagaan, dan pemasaran untuk program-program wirausaha seperti catering, laundry, banyak lainnya.

Permasalahan lingkungan seperti sampah dan penghijauan terjadi di desa-desa sekitar kilang minyak. Meskiun sudah ada upaya dan intervensi program terkait sampah dan penghijauan di beberapa desa, namun secara umum desa-desa di sekitar kilang minyak masih memerlukan perhatian lebih dari PRPP untuk program penguatan literasi, ketrampilan, serta sarana prasarana penunjang pengolahan, perawatan, dan manajemen lingkungan hidupterkait sampah dan penghijauan.

Aspek kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian dari program PRPP, adalah kasus stunting dan gizi buruk. Kasis tersebut masih terjadi di desa-desa sekitar kilang minyak. Meskipun sudah ada intervensi program dari dinas kesehatan melalui kegiatan rutin posyandu, dan pembagian makanan tambahan namun masih belum maksimal mengurangi kasus tersebut. Menariknya kasus stunting dan gizi buruk ini tidak serta merta dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi. Di desa-desa sekitar kilang minyak, sejumlah kasus stunting dan gizi buruk justru dari kelas ekonomi menengah ke atas.  Hal ini menandakan kurangnya literasi, kesadaran, dan ketrampilan pola asuh anak yang sehat dan baik.

Di sektor pendidikan, di desa-desa sekitar kilang minyak perlu dibuatkan sebuah ruang belajar berupa lembaga atau pusat pembelajaran informal di desa. Lembaga informal ini nantinya akan terintegrasi dengan lembaga pendidikan informal yang ada di masing-masing desa. Lembaga belajar ini bisa menjadi ruang bagi masyarakat yang putus sekolah maupun masyarakat luas untuk menunjang literasi dan ketrampilan pada sektor tertentu. Materi pendidikan dapat berupa sejumlah program pemberdayaan masyarakat PRPP dan sejumlah pendidikan informal yang ada di desa.

Program-program pemberdayaan dari sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan sebaiknya dapat saling terintegrasi, tidak berjalan sendiri-sendiri dan terkotak-kotak. Begitu pula program-program antar desa pun sebaiknya terorganisir dan terintegrasi secara terbuka melalui lembaga belajar informal yang rencananya diinisiasi pada masing-masing desa. Dengan demikian kemandirian kesejahteraan masyarakat yang adaptif, inovatif, dan integratif di desa-desa sekitar kilang minyak dapat terwujuda dan terjamin keberlanjutannya.